Tuesday, February 1, 2011

RENUNGAN BUAT ORANG YG SOMBONG

* Saya terbaca cerita ini dan ingin berkongsi bersama2 anda..... mari kita renungan ye....

oleh: Ev. Bedjo Lie, S.E., M.Div.

“Semakin sombong seseorang semakin ia membenci kesombongan dalam diri orang lain.”(C. S. Lewis)

Suatu malam, seorang mahasiswa berkata kepada saya dalam pergumulannya, “Pak, saya sedang bergumul dengan diri saya. Saya merasa sombong dan ini mengganggu saya.” Melihat ekspresi wajahnya yang serius dan tulus, saya menjawabnya, “Tenang saja, kesombonganmu jelas masih dalam taraf yang belum puncak. Pernyataanmu bahwa kamu merasa sombong menunjukkan bahwa kamu tidak benar-benar sombong.” Setelah itu kami berbicara panjang lebar dan saling mendukung.

Komentar saya di atas mencerminkan sebuah keyakinan bahwa mereka yang sombong total biasanya tidak menyadari kesombongannya dan mereka yang mampu mengakui kesombongannya, masih memiliki sisa-sisa kerendahan hati.. Hal ini seperti, orang yang agak mabuk sadar bahwa ia agak mabuk, namun orang yang mabuk total tidak sadar bahwa ia mabuk; atau orang yang setengah tertidur sadar bahwa ia setengah tertidur, tetapi mereka yang tertidur lelap tidak sadar bahwa ia sedang tertidur.

Nah, dalam pergulatan melawan dosa yang sama sekali tidak pantas ini, saya tiba pada karya C. S. Lewis, seorang profesor Cambridge yang menulis buku Mere Christianity dan banyak novel seperti The Chronicles of Narnia.

Jika C. S. Lewis ditanya tentang ciri-ciri orang sombong, jelas sekali ia akan menjawab: “orang sombong adalah orang yang sering kali tersinggung dengan orang sombong lainnya.” Kalimat itu bukan kata-katanya, tetapi rangkuman dari pemahamannya. Dalam bahasanya sendiri, ia berkata bahwa kesombongan adalah dosa yang “semakin kita memilikinya semakin kita tidak menyukainya dalam diri orang lain.” Pendeknya, ketika Anda tidak terima, jengkel, dan tersinggung dengan orang yang Anda anggap sombong, sangat mungkin kesombongan dalam diri Anda sedang memberontak melawan kesombongan orang lain. “Emangnya dia aja yang bisa, gua juga bisa tahu!” Begitulah ketika orang sombong tersinggung dengan orang sombong lainnya.

Kebenarannya adalah, semakin sering Anda tersinggung dan tidak menyukai orang-orang yang Anda anggap sombong, semakin mungkin bahwa Anda sendiri adalah orang yang sombong.

Pertama-tama, saya kurang sreg dengan pemikiran C. S. Lewis ini. Bukankah mungkin, seseorang yang pandai menganalisa orang lain (misalnya: psikolog) mampu menemukan kesombongan dalam diri orang lain tanpa terjatuh dalam kesombongan yang sama? Begitu kata saya dalam hati (dan mungkin juga Anda!). Namun, jelaslah bahwa hal ini adalah kesalahpahaman terhadap pemikiran C. S. Lewis. Ia tidak berkata bahwa orang yang sombong adalah orang yang mampu menemukan kesombongan orang lain, tetapi bahwa orang yang sombong adalah orang yang tidak menyukai kesombongan dalam diri orang lain. Selanjutnya, yang harus diingat adalah bahwa motivasi ketidaksukaan (dalam pemikiran C.. S. Lewis) ini bukanlah karena kita tahu bahwa kesombongan itu ditentang Allah, melainkan karena kita merasa tersinggung, marah dan tidak suka ketika ada orang yang menyombongkan diri di hadapan kita. Nah, kesombongan jenis inilah yang dibicarakan C. S. Lewis.

Pemikiran C. S. Lewis di atas sungguh sederhana sekaligus mendalam karena ia telah berhasil menemukan ciri-ciri orang yang sombong, bahkan mungkin ciri yang terutama. Selanjutnya C. S. Lewis berkata, “Kesombongan pada hakikatnya bersifat kompetitif – naturnya itu sendiri bersifat kompetitif – sementara kejahatan-kejahatan lainnya, bisa dikatakan hanya berkompetisi secara kebetulan.” Ia menjelaskan, “Kesombongan tidak merasa senang karena memiliki sesuatu, tetapi hanya jika ia memiliki sesuatu yang melebihi apa yang dimiliki oleh orang di sebelahnya.” Kesombongan selalu membuat orang kompetitif terhadap orang lain. Kesombongan eksis dalam konteks perbandingan dengan orang lain dan bukan kesendirian.

Selanjutnya, jika Anda mengamati semua dosa yang lain, misalnya orang yang suka korupsi waktu kerja atau uang perusahaan, pornografi, pornoaksi, mabuk-mabukan, mencuri, bahkan membunuh, Anda akan menemukan bahwa mereka yang melakukannya tidak selalu keberatan jika orang lain juga melakukannya. Itulah sebabnya kita dapat menemukan sekelompok mahasiswa tukang contek yang saling bersahabat, “persekutuan” para pemabuk, kumpulan orang-orang cabul, kelompok para pencuri waktu kerja, dan geng para pembunuh. Dalam bahasa C. S. Lewis, “Kejahatan-kejahatan lainnya terkadang bisa mempersatukan orang: Anda mungkin menemukan persekutuan dan senda gurau dan persahabatan yang erat di engah orang-orang yang mabuk dan tidak suci.”

Namun demikian, kesombongan adalah dosa yang amat berbeda. Kesombongan selalu berarti perseteruan- kesombongan adalah perseteruan. Dan bukan hanya perseteruan antara manusia dengan manusia, tetapi perseteruan dengan Allah. Singkatnya, dalam hikmat C. S. Lewis, dosa-dosa yang lain masih bisa mempersatukan orang-orang, tetapi kesombongan selalu berarti perseteruan, pertikaian, dan konflik yang tidak dengan orang lain. Oleh karena itu, jika ada suatu konflik tak berkesudahan, baik itu di dalam persahabatan, pernikahan, pekerjaan, C. S. Lewis akan menebak, pasti ada orang yang sombong di dalamnya, sehingga begitu sulitnya hal itu diselesaikan. Tentu saja semakin sulit lagi, jika pihak yang sombong selalu berpikir bahwa pihak lawanlah yang sombong. Ini benar-benar lingkaran setan! Tidak ada yang bisa menyelesaikan masalah seperti ini kecuali Tuhan.

Akhirnya, terhadap kesombongan ini C. S. Lewis ingin memberikan peringatan yang tegas, “Selama Anda menjadi orang yang sombong Anda tidak bisa mengenal Allah” Mengapa? “Sebab kesombongan adalah kanker spiritual: yang memakan habis setiap kemungkinan dari kasih, atau perasaan cukup, atau bahkan akal sehat.” Pemikiran C. S. Lewis hanyalah gema cerdas dari kebenaran Alkitab yang berkata, “Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong” (1Kor. 13:4). C. S. Lewis menutup pembahasannya dengan menunjukkan jalan menuju kerendahan hati. Ia berkata, “Langkah pertama adalah menyadari bahwa Anda adalah orang yang sombong. Dan langkah itu sekaligus merupakan langkah yang cukup besar. Setidaknya, tidak ada sesuatupun yang bisa dilakukan sebelumnya. Jika Anda berpikir bahwa Anda tidak tinggi hati, itu berarti Anda memang tinggi hati”
Selamat Merenung.

BILA ISTERI SUDAH TIDAK CANTEK LAGI......

Untuk renungan dan perhatian isteri2 dan bakal isteri... Buat Iktibar kita semua dan para suami / lelaki, renung2 kan lah.

Kisah benar yang terjadi kepada seorang isteri... dan ceritanya bermula begini..


"Saya ingin berkongsi pengalaman ini dengan semua kerana saya ingin puan2 tahu apa sebenarnya tersirat di dalam benak sesetengah suami dan bagaimana dia melihat kita dari pandangan mata mereka. Walaupun mereka tidak pernah komplen tentang perawatakan kita tetapi di sudut hati mereka mereka menilai secara diam2 dan membanding kita dengan perempuan lain.

Barangkali suami puan2 tidak begitu, tapi ini boleh jadi panduan.. Saya seorang isteri baru berusia 29 tahun dan mempunyai 3 orang anak, Perawatakan saya biasa sahaja, tidaklah hodoh, sedikit gempal setelah melahirkan 3 orang anak. Saya berkerja sebagai seorang eksekutif dan suami saya berkerja biasa saja..

Kebanyakan belanja rumah seperti ansuran rumah dan kereta, saya yang menbayarnya demi suami yang mempunyai gaji tidak seberapa.

Suami saya bolehlah di katakan menarik jika dibandingkan saya, tinggi, putih dan menarik minat ramai perempuan semasa bujangnya. Saya mengabdi diri seluruhnya untuk rumah tangga, pagi sebelum pergi kerja saya akan masak utk anak2, sarapan utk suami, saya memandu sendiri ke pejabat dan setelah balik ke rumah pada petangnya sayalah yang menyediakan segala keperluan rumahtangga.

Sepanjang perkahwinan suami tidak pernah komplen pasal perwatakkan saya. Saya memakai tudung, dia nampak biasa saja, tetapi dia tidaklah sentiasa tertarik kepada saya semasa di rumah seperti cuba mencium saya, memeluk atau memegang saya,biasa shj kami akan bersama bila waktu malam apabila dia perlukan saya.

Baru2 ini saya mendapat tahu dia mempunyai kekasih di tempat kerja sendiri. Gadis tersebut bukanlah muda dari saya tetapi sudah berumur 30 tahun. Saya mendapat tahu juga yang suami saya sering ke rumah gadis tersebut semasa waktu kerja. Hubungan yang terjalin nampaknya telah sampai ke tahap hubungan seks.

Bila saya bersemuka dan bertanya kepadanya, pada mulanya dia menafikan,tetapi setelah dikemukakan bukti dan sebagainya, baru dia mengaku. Saya ingin tahu kenapa dia menjalin hubungan. Apa kurangnya saya, dia akhir berterus terang mengatakan memang tiada apa yang kurang dengan saya, saya menjaga makan minum, membantu kewangan, menguruskan rumahtangga dengan baik tetapi saya hanyalah setakat itu shj tiada rangsanngan lagi bila melihat saya.

Baginya, dia kadangkala ingin bersama wanita yang di lihat cantik,menarik minat lelaki lain dan bila berjalan sama menimbulkan cemburu pada lelaki lain.Dia dengan berani memberitahu saya bahawa teman wanitanya mempunyai kuku yang cantik, perut yang nipis, bau yang sedap, fashion yang menarik.

Sedangkan saya menurutnya walaupun tidak hodoh tetapi hanyalah wanita yang sangat biasa saja,kuku saya pendek dan kadang2 rosak kerana memasak, rambut pulak kadang2 berbau bila balik kerja kerana bertudung sepanjang hari, Perut saya pula tebal, tidak menarik di rumah bila hanya bert-shirt dan berkain batik.

Hari2 melihat saya dia merasa tiada apa yang dibanggakan tentang saya, bercakap di rumah pula hanyalah tertumpu pasal rumah, anak2.Tiada topik menarik seperti teman wanitanya yg boleh bercakap pasal politik,carreer, mempunyai taste yang tinggi dan dapat membantu dia mengenali dunia yang baru mengaenai fashion, korporat, jadi dia merasakan seperti lelaki yang berjaya bila bersama wanita tersebut.

Memang saya akur tentang perawakan saya kerana pertama memang saya di lahirkan begini, kedua saya terlalu sibuk untuk membelek diri sendiri, ketiga saya tidak mempunyai cukup wang untuk berbelanja sepenuhnya untuk kecantikan.

Begitulah hati budi lelaki sebenarnya walau bagaimanapun kita menjaga dia tetapi dia masih mementingkan fizikal jauh di sudut hati ingin bersama wanita menarik yang boleh menbuat dia berasa bangga.

Saya telah pun berpisah dengan suami sekarang tetapi sy tidaklah duduk meratap tetapi menghadiri slimming session dan membelanjakan duit separuh untuk kecantikan bukan untk lelaki tetapi untuk kepuasan sendiri, biarlah saya pendek dan sedikit tembam tetapi saya berazam untuk menjaga kebersihan dan kelihatan menarik.

PS (Pendapat Aku) : Penting di sini kita memahami erti perkahwinan. Perkahwinan adalah bukan tempat kita untuk berseronok-seronok dan jangan bertindak zalim dengan perbuatan kita. Perkahwinan adalah sebahagian cara utk kita mencari keredhaan Allah. Dan perkahwinan itu sebahagian dari Iman. Dan perkahwinan juga tempat kita di uji. Maka, bersabarlah dan bertindak dengan bijak dengan penuh hikmah .

"Bagi lelaki yg berfikir utk bertindak spt ini, fikirkanlah, btp besarnya pengorbanan seorg isteri demi sebuah keluarga yg sempurna. Jadikanlah kebaikkan seseorg isteri itu sbg hiasan untuk anda, tetapi jadikanlah keburukkan seseorg isteri itu sbg t'jawab utk anda memperbaikinya....InsyaAllah......."

TIP MENAWAN HATI WANITA

1. Semua orang ada jodoh atau pasangan yang menanti dan biasanya ia berada tidak jauh dari anda. Jarang orang bertemu dengan jodoh yang berada jauh darinya.

2. Jodoh itu ketentuan Allah dan kita wajib berusaha. Doa, usaha yang betul dan bersungguh-sungguh disertai dengan tawakkal, insyallah akan menemukan anda dengan pasangan anda.



4. Seimbangkan hidup anda dengan sempurna agar diri anda jadi seperti “magnet” yang menarik bakal pasangan anda kepada anda.

5. Daya tarikan yang sebenar berpusat di hati yang murni. Berusahalah untuk mencuci hati anda daripada semua perasaan yang negatif terhadap semua orang di dunia ini.

6. Agar mudah orang sayang, cuci hati dengan jaga ibadah, solat taubat, beristighfar, baca Al-Quran, maafkan orang lain, meminta maaf, bersedekah dan berfikiran positif.

7. Sayangi semua orang di sekitar anda dan anda akan menarik sayang terhadap anda. Jika anda membenci orang, ditakuti bakal pasangan anda akan membenci anda.

8. Orang yang sedang mencari pasangan harus sentiasa bersedia untuk bertemu dengan pasangannya pada bila-bila masa. Justeru, kita perlu sentiasa dalam keadaan yang paling menarik setiap masa. Tanggapan pertama adalah yang terpenting.

9. Untuk lelaki, tarikan pertama ialah pakaiannya. Untuk perempuan, wajah dan bentuk badan menjadi tarikan pertama. Sediakan diri untuk menawan bakal pasangan anda.

10. Buka hati dan minda anda untuk menerima cinta. Cinta boleh berputik pada bila-bila masa. Cinta mudah datang kepada mereka yang sentiasa bersedia untuk menerima cinta.

11. Cinta datang melalui mata lalu turun ke hati. Justeru, perhebatkan hubungan mata secara memandang bakal pasangan dengan penuh kasih sayang.

12. Kita boleh berkomunikasi melalui fikiran. Hantarlah kasih sayang dan hasrat murni anda terhadap pasangan dengan gelombang fikiran ini secara berterusan hingga berjaya.

13. Ramai yang terlepas peluang dan patah hati sebab lewat menyatakan hasrat kepada bakal pasangan. Perkara yang baik disegerakan (iaitu menyatakan perasaan anda kepada bakal pasangan).

14. Tidak salah untuk orang perempuan memulakan usaha untuk berkenalan. Orang lelaki akan sentiasa merasakan mereka yang memulakan perkenalan walaupun sebenarnya orang perempuan yang mulakan.

15. Berkomunikasi dengan mesra dan bersemangat menggunakan lidah, mata, hati dan bahasa badan. Elakkan bercakap sambil lewa atau kurang sopan terhadap bakal pasangan.

16. Berbual dengan pasangan mengenai apa yang dia suka. Beri tumpuan kepada minat dan perasaannya. Elakkan sibuk memberi tumpuan kepada diri sendiri.

17. Layan bakal pasangan dengan mesra seperti kawan lama walaupun baru berkenalan. Bentuk suasana keintiman dengan segera agar bakal pasangan rasa selesa.

18. Makin mudah kita menceritakan hal peribadi yang munasabah kepada bakal pasangan, semakin mudah dia menceritakan hal dirinya kepada kita.

19. Berdoa dan latih diri agar kita pandai mendampingi orang lain dan seronok untuk didampingi oleh orang lain. Buang perangai yang menyebabkan orang benci kepada kita.

20. Beri sayang untuk mendapat sayang. Orang yang masih ada perasaan benci terhadap sebarang orang boleh menyebabkan bakal pasangan benci atau tidak tertarik kepada kita. Justeru buang semua benci.

21. Untuk wanita, jangan jual mahal terhadap bakal pasangan. Tetapi, nyatakan dengan hikmah kepadanya yang anda amat sukar untuk berkenalan dengan lelaki lain.

22. Kebanyakan lelaki mudah tertarik kepada perempuan yang simple, tidak materialistik, mudah berterima kasih dan redha dengan setiap pemberian lelaki tersebut.

23. Orang perempuan mudah tertarik kepada lelaki yang memberi perhatian, penghargaan dan penghormatan kepada mereka. Justeru, orang lelaki janganlah terlalu jimat atau kedekut.

24. Orang lelaki perlu belajar mengenal kerenah orang perempuan. perasaan, pemikiran, kehendak, keperluan, kesukaan dan kebenciannya.

25. Elakkan memberi tumpuan kepada kelemahan dan kesilapan kecil yang ada pada bakal pasangan. Jangan sesekali mengutuk atau memalukan bakal pasangan.

26. Senyuman ikhlas, wajah yang menawan dan bahasa badan yang penuh kemesraan akan menambat lelaki terhadap wanita.

27. Orang mudah tertawan kepada bakal pasangan yang ada persamaan dan ada perbezaan sifat, tindakan dan minat. Terlalu banyak persamaan membosankan. Banyak sangat perbezaan menyesakkan.

28. Orang mudah tertarik kepada bakal pasangan yang ada sikap dan sifat yang saling mengimbangi dan melengkapkan sikap dan sifatnya.

29. Walaupun belum kenal rapat dengan bakal pasangan, nyatakan yang anda sering merasa atau berfikir seperti yang dia rasa atau fikir. Keserasian adalah tarikan.

30. Perempuan membentuk hubungan dengan berbual dan bercakap. Lelaki bentuk hubungan dengan melakukan sesuatu kegiatan secara bersama.

31. Orang mudah tertawan kepada bakal pasangan yang mempunyai persamaan daripada berbagai segi seperti kefahaman politik, aktiviti keagamaan, sikap terhadap harta, wang dan hobi.

32. Dua orang yang amat banyak perbezaan boleh serasi antara satu sama lain jika mempunyai satu atau dua persamaan yang mendalam seperti suka kepada kucing, suka melancong atau suka ramai anak.

33. Tindakan yang serentak akan menarik bakal pasangan terhadap anda. Contohnya, serentak berpaling, serentak angkat gelas, serentak berdiri, serentak nak ke tandas.

34. Tawan hati bakal pasangan dengan pamerkan emosi yang sama terhadap sesuatu kejadian atau peristiwa – sama-sama gembira, sedih, terperanjat, benci, simpati dan sebagainya.

35. Dua insan mudah serasi jika mempunyai pentafsiran yang sama mengenai hubungan – tahap keakraban, kebebasan, kebergantungan, pemberian, pengorbanan dan sebagainya.

36. Kenalpasti ciri-ciri yang disukai oleh bakal pasangan anda. Bentuk ciri-ciri yang disukai oleh bakal pasangan anda. Bentuk ciri-ciri ini dalam diri anda dan pamerkan kepadanya yang anda mempunyai
ciri-ciri tersebut.

37. Semua orang mencari cinta sejati tanpa syarat. Bakal pasangan anda akan tertarik kepada anda jika anda mengasihinya bukan kerana wajah, harta, keturunan atau glamornya.

38. Bakal pasangan akan tertawan kepada anda jika anda dapat bantu mengukuhkan imej dirinya, rangsang semangatnya dan pupuk keyakinan dirinya.

39. Keikhlasan amat penting dalam memuji atau memotivasi bakal pasangan. Jika kita didapati bohong, dia akan terus menjauhkan diri daripada kita.

40. Pujian yang berhikmah dan ikhlas bertindak sebagai magnet yang menarik anda kepada bakal pasangan. Pujian daripada kawan baru lebih bermakna dan berkesan berbanding pujian daripada kawan lama.

41. Ulang sebut perkataan, ayat atau slogan yang digemari bakal pasangan anda. Ini menyebabkan dia rasa istimewa dan dihargai dan akan tertawan kepada anda.

42. Kenalpasti keistimewaan bakal pasangan anda yang orang lain tidak nampak. Sampaikan kehebatan ini dengan bersemangat dan dia akan mudah tertawan kepada anda.

43. Untuk bakal pasangan yang popular dan sering dipuji , cari pujian yang original untuk menambat hatinya. Untuk orang yang tidak popular, sebarang pujian amat dialukan dan dihargai.

44. Beri penghargaan serta merta kepada setiap pencapaian atau kejayaan bakal pasangan. Ini membelai dan melembutkan hatinya terhadap anda.

45. Jika bakal pasangan memuji anda, pamerkan keseronokan anda dengan senyuman dan ucapan terima kasih dan bersyukur. Dia akan rasa dihargai.

46. Cari keunikan, kelucuan atau ‘kegilaan’ bakal pasangan anda. Nyatakan yang anda suka kepadanya sebab keunikan tersebut. Ini buat dia rasa istimewa.

47. Ramai pasangan sengsara bila isteri terlalu cantik atau suami terlalu handsome. Justeru, cari bakal pasangan yang setara dan sepadan dengan kita.

48. Orang yang merasa dirinya hodoh sukar untuk mendapat pasangan. Carilah kecantikan yang ada pada anda dan bentuk keyakinan diri. Hati yang suci dan keyakinan yang tinggi menyerlahkan kecantikan anda.

49. Wanita mudah tertawan kepada lelaki yang gentleman – bersopan santun, suka membantu, menghormati wanita, berani dan yakin diri.

50. Untuk jadi lebih menawan, berterusan belajar, perbaiki perangai dan peribadi, baiki kemahiran komunikasi, murnikan hati, pemaaf dan sentiasa bersangka baik.

51. Lelaki harus mempamerkan sifat kelelakiannya di samping memasukkan sifat perempuan dalam dirinya seperti lebih prihatin, memahami emosi , timbang rasa, dan gunakan gerak batin.

52. Perempuan harus mempamerkan sifat kewanitaan disamping menghayati sifat lelaki seperti minat dalam politik, sukan, memancing, dan aktiviti macho yang lain. Bertindak bijak tapi, jangan terlalu bijak.

53. Untuk menambat hati wanita, kerap bertanya tentang perasaannya, aktiviti yang dijalankannya, kegemarannya, kebenciannya atau sebarang perkara yang berkaitan dengan emosi.

54. Sebelum benar-benar rapat, orang perempuan harus elakkan diri dari bertanya bakal pasangan mengenai perasaannya mengenai sesuatu perkara, peristiwa atau situasi.

55. Orang lelaki amat pantang bila bakal pasangan menempelak atau menunjukkan kesilapan atau kebodohan lelaki tersebut. Ini cara terbaik memutuskan hubungan.

56. Orang perempuan mudah tertawan kepada lelaki yang boleh mengaku salah, meminta maaf, meminta bantuan, bertolak ansur, pandai mendengar, bersabar dan lemah lembut terhadap wanita.

57. Bila bercakap dengan lelaki, orang perempuan harus fokus kepada fakta dan sampaikan secara ringkas. Penjelasan yang berjela-jela dan memasukkan unsur perasaan akan membunuh minat lelaki terhadapnya.

58. Jika orang perempuan marah, pujuklah dengan kasih sayang. Tanya kenapa dia marah, dengari dengan teliti dan jangan komen atau cuba beri nasihat. Orang perempuan mudah sayang pada lelaki yang pandai mendengar dan sensitif kepada perasaannya.

59. Jika lelaki marah, jangan sibuk nak tanya kenapa dia marah. Pamerkan kasih sayang dan bentuk suasana yang tenang. Doakan dia dan beri masa untuk dia merawat dirinya sendiri.

60. Fahami bahawa orang lelaki bercakap secara terus terang, ringkas dan objektif. Orang perempuan sering bercakap secara berlapik, terperinci dan banyak yang tersirat.

MAKSUD NAMA MENGIKUT HURUF DEPAN

Pemilihan huruf pertama pada nama juga adalah penting. Berikut sebagai
sedikit panduan.

A
Ramah dan murah senyuman. Mereka juga pandai menyesuaikan diri dalam
pergaulan selain bijaksana dan cerdas. Kelemahannya, sangat mudah berasa
hati, dan mudah mengeluarkan kata-kata pedas ketika meluahkan perasaan
marah. Meskipun begitu marahnya mudah reda.

B
Selalu tenang dalam menghadapi masalah yang rumit dan membahayakan dirinya
adalah ciri penampilannya. Mereka juga sangat setia dan penyabar, yang
menjadikannya amat disenangi dalam pergaulan. Kelemahannya, sangat mudah
tersinggung.

C
Ramah dan pandai berbicara. Ini yang menjadikannya popular di kalangan
rakan-rakan. Mereka tidak bersungguh dalam bertindak dan selalu menganggap
masalah yang dihadapi adalah remeh.

D
Pendiam, bercakap hanya bila perlu. Sopan, berdisiplin dan kuat bekerja.
Kelebihannya itulah yang menghasilkan kejayaan dalam mencapai cita-cita.
Kelemahannya adalah selalu bimbang dan sukar mempercayai orang lain.

E
Pandai dan penuh pertimbangan dalam menjalankan tanggung jawab. Sikapnya
periang bila hatinya senang, tetapi suka berdiam diri apabila hatinya
gundah dan boleh membuatkan hati orang lain terluka.

F
Punya pendirian yang teguh, tidak mudah goyah dan keras kepala. Mereka
juga sukar memaafkan. Tidak setia dan amat berhati-hati bila berbelanja.

G
Kerap murung dan bersedih hati. Pendiriannya mudah dipengaruhi. Tekun
belajar ketika rakannya bermalas-malasan dan sebaliknya suka
bermalas-malasan ketika rakannya sedang tekun.

H
Mudah simpati, bahasanya lemah-lembut. Tidak pernah melukai perasaan orang
lain. Selalu tergesa-gesa dalam melakukan pekerjaan, suka berkhayal dan
bercita-cita terlalu tinggi.

I
Suka memendam perasaan dan permasalahan. Mereka juga mudah merasa curiga
dan cemburu terhadap orang lain. Suka menangis.

J
Ramah dan murah senyuman. Mereka juga pandai menyesuaikan diri dalam
pergaulan. Mudah merasa ragu dalam membuat keputusan dan tidak tegas.

K
Pandai berjenaka. Hari-harinya sentiasa ceria walaupun perasaannya gundah.
Kelemahannya suka bercerita rahsia sendiri.

L
Ramah dan pandai bergaul dan mempunyai ramai kawan. Tidak suka bergosip
dan mencampuri urusan orang lain. Amat berhati-hati bila berbelanja.
Kelemahannya, tidak menepati masa.

M
Pandai dan kreatif, suka kelembutan dan jika dikongkong, mereka akan
berontak. Senang dijadikan sahabat, kerana mereka tidak berkira.
Kelemahannya, boros dan keras kepala.

N
Baik hati dan rapi dalam berpakaian.. Mereka suka menghulurkan tangan
menolong orang lain tanpa memikirkan balasan. Kelemahannya, mudah bersedih
hati dan kurang percaya diri
.
O
Serba boleh. Suka memendam perasaan dan permasalahan serta sukar
mempercayai orang lain. Akibatnya ramai yang menggapnya sombong dan suka
memilih teman.

P
Pandai berjenaka dan selalu ceria. Punya banyak idea dan sangat kretif.
Sering melakukan sesuatu yang belum dilakukan orang lain.. Agak pendendam
dan boros.

Q
Setia dan mudah memaafkan orang lain. Suka meluangkan waktunya untuk
kawan-kawan. Keras kepala, sukar diatur dan mudah emosi.

R
Pendiam dan bercakap hanya bila perlu. Tekun dengan kerja yang disukai dan
bersungguh-sungguh dalam mengejar cita-cita. Suka mengkritik. Dan sukar
mengawal bicara ketika marah.

S
Pandai dan tekun dalam mengejar cita-cita. Tidak suka pada orang yang suka
memungkiri janji. Kelemahannya mudah tersinggung selain sukar menahan
emosi. Jika sudah emosi marahnya meledak-ledak.

T
Sangat berdisiplin. Selalu mengerjakan sesuatu menurut aturan buku. Tidak
suka mengelamun atau bermalas-malasan. Suka menonjolkan diri selain senang
gugup, terutama bila bersalah.

U
Suka berterus-terang dan menyendiri. Naif baginya merugikan orang lain.
Tidak tahan dengan kritikan dan kurang pandai menyusun kata-kata jika
berbicara didepan orang ramai.

V
Tutur katanya lembut dan pemalu. Pandai meyesuiakan diri. Selain itu,
mereka juga pandai menguasai orang disekitarnya dengan cerita-cerita yang
memikat. Tidak suka berterus terang.

W
Ramah dan mudah simpati. Sikapnya amat menawan. Punya toleransi yang
tinggi dan ringan tangan. Keras kepala dan sukar diatur, tetapi hatinya
boleh dilembutkan dengan kesabaran dan kelembutan.

X
Budi pekertinya halus. Suka melakukan pekerjaan sosial. Mudah tersinggung
dan tidak akan berbaik dengan mereka yang menyinggungnya.

Y
Pendiam dan tidak suka menonjolkan diri. Ramai menganggapnya sombong
walaupun sebenarnya mereka adalah sahabat yang baik. Tidak berani
mengemukakan pendapat.

Z
Pandai berjenaka dan menyesuaikan diri dalam pergaulan. Suka disapa
terlebih dulu dan gemar menonjolkan diri.

DOA BUAT SAHABATKU

Ya Allah
panjangkanlah umur sahabatku Kurniakanlah, kesihatan yang baik padanya,terangi hatinya dengan nur pancaran iman.Tetapkanlah hatinya, perluaskanlahrezekinya, dekatknlah hatinya kepada kebaikan,jauhkanlah hatinya pada kejahatan, tunaikanlah hajatnya baik hajat dalam agama,dunia
dan akhirat

Ya Muhaimin
jika dia jatuh hati izinkanlah dia menyentuh hati , seseorang yang hatinya tertaut padaMu agar tidak terjatuh dia dalam jurang cinta nafsu?Jagalah hatinya agar tidak berpaling daripadamelabuhkan hatinya pada hatiMu.jika dia rindu,rindukanlah dia

FITNAH IBARAT API

Kemajuan teknologi menyenangkan kita semua tetapi ada segelintir yang menyalahgunakannya sehingga membawa kepada penyebaran fitnah. Penyebaran berita yang tidak benar melalui Sistem Pesanan Ringkas (SMS dan MMS) dan laman sesawang umpamanya banyak sekali berlaku sehingga mencetuskan kegusaran masyarakat.

Walaupun nampak mudah tetapi ini sebenarnya adalah sesuatu bentuk fitnah yang berbahaya. Mengenai fitnah, Allah berfirman bermaksud: "Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya." (Surah Al-Baqarah: 191)

Rasulullah bersabda yang bermaksud: "Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, berleluasa sifat kedekut dan banyak berlaku jenayah." (Riwayat Muslim)

Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Sebagai Muslim dan Muslimah, kita wajib menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah.

Ini selaras dengan firman Allah yang bermaksud: "Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan." (Surah Al-Hujurat: 6)

Jangan anggap menyebarkan cerita tidak benar itu sekadar kesalahan kecil. Hakikatnya, fitnah itu ibarat api dan dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Rasulullah bersabda yang bermaksud: "Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah." (Riwayat Bukhari dan Muslim)

JAUHI FITNAH DAJJAL

Dari zaman Nabi s.a.w hinggalah akhir zaman nama dajjal ini disebut-sebut. Sesungguhnya dajjal ini sinonimnya dengan kejahatan. Siapakah dajjal? sesungguhnya kita tidak mengetahui siapa sebenarnya dajjal, kerana kecetekan keilmuan kita dan kelemahan iman kita. Imam malik pernah berkata kepada ibnu ishak yang merupakan seorang tokoh sejarah yang besar sebagai dajjal. Maulana Asri yusof yang merupakan sarjana hadith malaysia dalam kajianya mengatakan pengasas revoulusi iran iaitu khomeni itu sebagai dajjal,kerana berdasarkan tanda-tanda dari beberapa buah hadith.

Kedatangan dajjal boleh jadi dengan samaran, kita mungkin nampak beliau seorang berjubah dan berserban tetapi boleh jadi itulah dajjal, kita melihat seseorang itu bertudung labuh dan berpurdah tetapi apakah disebalik purdah tersebut??.betapa liciknya dajjal ini...

Siapa dajjal itu tidak berapa penting untuk kita ketahui, tetapi kewajipan untuk berlindung dari fitnah dajjal merupakan perkara yang amat penting buat kita. Kerana dalam sebegitu banyak hadith-hadith kita telah di diberi beberapa 'amaran' oleh Rasulullah s.a.w tentang bahayanya dajjal. Sebab itu dalam sebuah hadith Rasulullah s.a.w bersabda:

"Bila seseorang selesai membaca tashahhud (akhir), hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah empat perkara, iaitu: ' Ya Allah, aku berlindung kepada Mu dari siksa neraka jahannam, dari siksa kubur, dari fitnah hidup dan mati, dan dari fitnah dajjal'. [Selanjutnya, hendaklah ia berdoa memohon kebaikan utk dirinya sesuai kepentingannya]". (Hadith riwayat Muslim, Abu 'Awanah, Nasa'i dan Ibnu jarud dalam al-muntaqa [27].)

Dalam riwayat abu daud dan ahmad dengan sanad yang sahih, Nabi selalu membaca doa tersebut dalam tasyahhudnya.

Lihatlah betapa pentingnya untuk kita berlindung dari fitnah dajjal tersebut, Nabi s.a.w seorang manusia yang secara mutlaknya mendapat lindungan dari Allah sendiri selalu memohon perlindungan dari fitnah dajjal, sedangkan siapa kita di sisi Allah?.

bahayanya fitnah dajjal ialah, ia bukan sahaja mengelirukan orang awam yang rendah ilmu dan imannya , tetapi jika di lihat sejarah, berapa ramai ulama' terkeliru dengan dajjal ini, baik dajjal kiasan ataupun realiti. Fitnah dajjal amat dasyat, boleh jadi seseorang yang awalnya Islam akan tersesat di akhir hayatnya....kemungkinan akan murtad...Nauzubillah.....

Dosa sebar fitnah hilangkan pahala terkumpul

HATI adalah organ paling utama dalam tubuh manusia dan nikmat paling agung diberikan Allah sebagai titik untuk menilai keikhlasan. Di hati lahirnya niat yang menjadi penentu sesuatu amalan diterima sebagai pahala atau sebaliknya.

Hati perlu dijaga dan dipelihara dengan baik supaya tidak rosak, sakit, buta, keras dan tidak mati bagi mengelak penyakit masyarakat yang berpunca daripada hati.
Kerosakan pada hati membawa kepada kerosakan seluruh nilai hidup pada diri seseorang individu. Penyakit hati yang menyerang kebanyakan kita ialah penyakit fitnah, sama ada menjadi penyebar atau mudah mempercayai fitnah.

Perbuatan fitnah adalah sebahagian perbuatan mengadu-domba yang mudah menyebabkan permusuhan dua pihak yang dikaitkan dengan fitnah berkenaan.

Masyarakat yang dipenuhi budaya fitnah akan hidup dalam keadaan gawat. Sebelah pihak sibuk menyebarkan fitnah dan sebelah pihak lagi terpaksa berusaha menangkis fitnah itu.
Natijah akibat perbuatan itu boleh mencetus persengketaan dan mungkin berakhir dengan tragedi kerugian harta benda dan nyawa. Individu yang suka menyebar fitnah sentiasa mencari kejadian atau berita boleh dijadikan bahan fitnah.
Dengan sedikit maklumat, berita itu terus disebarkan melalui pelbagai saluran yang merebak dengan mudah. Berita sensasi, terutama berkaitan individu ternama dan selebriti mudah mendapat perhatian khalayak.

Justeru, Allah memberi peringatan mengenai bahaya fitnah. Firman-Nya yang bermaksud: “Dan fitnah itu lebih besar bahayanya daripada pembunuhannya.” (Surah al-Baqarah, ayat 191)
Apabila fitnah tersebar secara berleluasa, ia bermakna nilai agama sudah musnah dalam diri seseorang atau masyarakat. Islam bertegas tidak membenarkan sebarang bentuk fitnah biarpun untuk tujuan apa sekalipun.

Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Akan muncul suatu ketika di mana ilmu Islam dihapuskan, muncul pelbagai fitnah, berleluasa sifat kedekut dan banyak berlaku jenayah.” (Hadis riwayat Muslim)
Penyebaran fitnah mudah berlaku dalam era teknologi komunikasi moden sekarang. Kemudahan khidmat pesanan ringkas (SMS), laman web dan emel membolehkan penyebaran maklumat tanpa memerlukan bertemu secara berdepan, lebih mudah, cepat, meluas dan murah.

Teknologi yang sepatutnya digunakan untuk kebaikan disalahgunakan untuk menyebarkan fitnah. Penyebaran fitnah melalui SMS yang berleluasa memaksa kerajaan menetapkan peraturan semua pemilik kad prabayar didaftarkan.
Islam mempunyai kaedah lebih ketat bagi memastikan kebenaran sesuatu berita supaya tidak terperangkap dengan berita berunsur fitnah. Wajib bagi Muslim menghalusi setiap berita diterima supaya tidak terbabit dalam kancah berita berunsur fitnah.
Sebarang berita diterima perlu dipastikan kesahihannya. Kebijaksanaan dan kewarasan fikiran amat penting digunakan bagi memastikan tidak terpedaya dengan berita berunsur fitnah.
Firman Allah bermaksud: “Wahai orang yang beriman, jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidik (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara tidak diingini, dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menyebabkan kamu menyesali perkara yang kamu lakukan.” (Surah al-Hujurat, ayat 6)

Banyak pihak yang turut terbabit menyebar fitnah sebenarnya tidak mempunyai sebarang kepentingan berkaitannya. Tetapi, disebabkan amalan menyebar fitnah sudah menjadi kebiasaan, banyak yang turut menyertainya dan seperti mendapat kepuasan daripada perbuatan itu.

Fitnah biasanya disebarkan bertujuan memburukkan individu atau kumpulan. Pada masa sama, perbuatan itu dapat menonjolkan dirinya sebagai lebih baik dan lebih layak berbanding orang yang diburukkan itu.
Dosa membuat fitnah digolongkan sebagai dosa sesama manusia. Justeru, dosa itu tidak akan diampunkan Allah, melainkan orang yang difitnah itu memberi keampunan terhadap perbuatan itu.

Mungkin ramai menyangka perbuatan menyebarkan berita fitnah sekadar satu kesalahan kecil. Sebab itu, perbuatan seumpamanya dilakukan seperti tiada apa merugikan.
Hakikatnya, dosa membuat fitnah menjauhkan diri dari syurga. Sabda Rasulullah SAW bermaksud: “Tidak masuk syurga orang yang suka menyebarkan fitnah.” (Hadis riwayat Bukhari dan Muslim)
Dosa menyebar fitnah umpama api membakar ranting kering kerana ia cepat merebak dan akan menjadi abu sepenuhnya. Dosa menyebar fitnah menyebabkan pahala terdahulu dihilangkan sehinggakan penyebar fitnah akan menjadi muflis di akhirat nanti.
Penyebar khabar angin biasanya menyebut perkataan ‘dengar khabar’ mengenai berita yang disebarkan. Bagaimanapun, apabila berita tersebar daripada seorang ke seorang, maklumat yang belum sahih itu sudah hilang dan kemudian disebarkan seperti berita benar.

Dalam Islam, sesuatu berita benar tetap tidak boleh disebarkan jika orang yang berkaitan cerita itu tidak mahu ia disebarkan kepada orang lain. Menyebarkan berita benar tetap dilarang, inikan pula menyebarkan berita tidak benar.
Imam Ghazali dalam buku Ihya Ulumuddin menjelaskan perbuatan membocorkan rahsia orang lain dan menjejaskan kehormatannya dengan cara membuka rahsianya yang tidak mahu diketahui orang lain dianggap sebagai perbuatan mengadu-domba dan fitnah.
Mengenai berita benar dan berita tidak benar yang disebarkan tanpa kebenaran atau kerelaan orang berkaitan, Rasulullah SAW bersabda bermaksud: “Adakah kamu semua mengetahui apakah ghibah (mengumpat)? Sahabat menjawab: Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Lalu Baginda meneruskan sabdanya: Kamu berkata mengenai saudara kamu perkara yang tidak disenanginya. Lalu ditanya oleh seorang sahabat: Walaupun saya berkata perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya?’ Rasulullah bersabda lanjut: “Jika kamu berkata mengenai perkara yang benar-benar berlaku pada dirinya bererti kamu mengumpatnya, jika perkara yang tidak berlaku pada dirinya bererti kamu memfitnahnya.” (Hadis riwayat Abu Hurairah)

Larangan mencari dan membocorkan rahsia orang lain jelas dilarang Allah seperti dijelaskan dalam firman-Nya bermaksud: “Dan janganlah kamu mengintip atau mencari-cari kesalahan dan keaiban orang lain.” (Surah al-Hujurat, ayat 12)
Justeru, setiap Muslim perlu bijak menilai sesuatu berita bagi mengelak daripada menerima dan kemudian menyebarkan sesuatu berita berunsur fitnah.
Perkara pertama perlu diberi perhatian untuk memastikan kesahihan berita ialah memastikan sumber berita itu, yakni siapakah yang mula menyebarkan berita dan rantaian orang yang membawa berita itu.

Umat Islam tentu tidak lupa pada sejarah menyebabkan kematian khalifah ketiga kerajaan Islam di Madinah iaitu Uthman Affan, yang berpunca daripada fitnah disebarkan kumpulan ekstremis agama.

Penyebaran fitnah turut menjadi penyebab kepada peperangan sesama Islam atau perang saudara ketika zaman pemerintahan Saidina Ali dan zaman selepas itu.
Fitnah juga meruntuhkan kekuatan Bani Umaiyah malah, sejarah kejatuhan empayar besar kerajaan Melayu Melaka tidak terkecuali kerana fitnah. Ubat bagi penyakit hati ialah dengan memperbanyakkan taubat dan selalu berzikir

Sunday, April 11, 2010

HUKUM SHALAT BERJAMA’AH BAGI WANITA

Shalat berjama’ah di masjid wajib hukumnya, dimana keterangan masalah ini nampak sekali imbas bahawa shalat jama’ah seakan-akan diwajibkan bagi setiap muslim, baik lelaki mahupun perempuan. Padahal tidaklah demikian, ini kerana di dalamnya terdapat beberapa pengkecualian dan pengkhususan. Di antara pengkhususan itu adalah tidak diwajibkannya shalat berjama’ah bagi wanita. Hal itu sesuai dengan Ijma’ (kesepakatan) Ulama. Adapun dibolehkannya mereka ikut serta dalam shalat berjama’ah bukan bererti merupakan kewajipan bagi mereka sebagaimana yang telah dikatakan oleh Abu Muhammad bin Hazm rahimahullah; “Adapun bagi wanita maka hukum menghadiri shalat berjama’ah adalah tidak wajib. Dalam perkara ini tidak terdapat ikhtilaf di antara para ulama.”(Lihat Al Muhalla 4:196)

Sebaliknya wanita dianjurkan untuk shalat di rumahnya kerana fadhilah (keutamaan)nya lebih besar dibandingkan dengan shalat berjama’ah di masjid. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda kepada seorang wanita :
“Shalat di kamarmu lebih utama daripada shalat di rumahmu. Shalat di rumahmu lebih utama daripada shalat di masjid kaummu” (HR. Ibnu Khuzaimah)
Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits yang berbunyi:
“Shalat di masjidku lebih utama seribu shalat dibandingkan dengan shalat di masjid-masjid yang lainnya” (HR. Muslim)

Berkata Syaikh Al Albani rahimahullah : “Hadits ini tidak menafikan bahawa shalat-shalat mereka (para wanita) di rumahnya lebih utama bagi mereka, sebagaimana tidak dinafikannya pula keutamaan shalat sunnah di rumah bagi lelaki dibandingkan jika dilakukan di masjid. Akan tetapi jika dia (lelaki) shalat fardhu di salah satu masjid yang tiga (Mekah, Madinah dan Aqsha), maka mereka mendapat keutamaan-keutamaan dan kekhususan-kekhususan dibandingkan shalat di masjid-masjid lainnya, demikian pula halnya bagi wanita.” (Lihat Jilbab Al Mar’ah Al Muslimah :156)

Di dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah kalian melarang wanita-wanita kalian (untuk pergi ke) masjid dan rumah-rumah mereka lebih baik bagi mereka” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Berkata Imam Asy Syaukani rahimahullah ketika menjelaskan lafadz “Rumah-rumah mereka lebih utama bagi mereka“, maksudnya adalah “Shalat-shalat mereka (wanita) di rumahnya itu lebih utama bagi mereka dibandingkan dengan shalatnya di masjid. Jika mereka mengetahui yang demikian (pastilah mereka tidak meminta untuk keluar masjid). Akan tetapi kerana mereka tidak mengetahuinya, maka mereka (shahabiyah) meminta izin untuk keluar ke masjid dengan berkeyakinan bahwa pahalanya lebih banyak daripada shalat di rumahnya”(Lihat Nailul Authar 3:131).

Dari riwayat-riwayat di atas, para ulama mengistinbatkan hukum bahawa shalat wanita di dalam rumahnya lebih utama daripada shalat di masjid. Walaupun demikian mungkin akan timbul dalam benak kita suatu pertanyaan: “Manakah yang lebih utama, wanita shalat di rumahnya dengan berjama’ah atau shalat sendiri. Dan apakah shalat jama’ahnya akan mendapatkan seperti apa yang disabdakan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam (yakni lebih utama 27 darjat)?” Untuk menjawab pertanyaan ini terlebih dahulu kita melihat syarah hadits “Shalat berjama’ah lebih utama dibandingkan shalat sendiri dengan dua puluh lima (dalam riwayat lain dengan dua puluh tujuh) darjat. ” Apakah hadits tersebut bersifat umum bagi lelaki dan wanita?”

Syaikh Al Albani memberi komentar kepada hadits ‘Aisyah dan Ummu Salamah رضي الله عنهما yang mengimami para wanita di dalam shalat dengan perkataan beliau sebagai berikut : “Atsar-atsar ini baik untuk diamalkan, lebih-lebih jika dihubungkan dengan keumuman sabda Rasulullah bahawa para wanita itu serupa lelaki ‘. Namun penyamaan ini di dalam hal berjama’ah bukan di dalam keutamaan yang dua puluh lima atau dua puluh tujuh darjat.”

Daripada keterangan di atas, maka keutamaan dua puluh lima dan dua puluh tujuh darjat itu khusus untuk shalat jama’ah yang dilakukan di masjid, sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnu Hajar رحمه الله : “Bahkan yang paling jelas adalah bahawa darjat yang disebutkan itu khusus bagi jama’ah di masjid” (Lihat Fathul Bari 2:159). Hal ini berdasarkan hadits Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam yang ertinya: “Shalat seorang dengan berjama’ah dilipat gandakan ke atas shalatnya di rumahnya dan di pasar dengan dua puluh lima kali ganda. Hal ini dia perolehi apabila dia berwudhu lalu menyempurnakan wudhunya kemudian keluar menuju ke masjid. Tidak mengeluarkannya kecuali untuk shalat. Maka tidaklah dia melangkah satu langkah, kecuali diangkat baginya satu darjat dan dihapus daripadanya satu kesalahan dan tatkala dia shalat para malaikat terus menerus mengucapkan shalawat ke atasnya selama dia di tempat shalatya dengan doa: ‘Ya Allah, berilah shalawat atasnya, rahmatilah dia. Senantiasa salah seorang di antara kalian dalam keadaan shalat selama menunggu shalat” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dengan demikian maka shalat jama’ah wanita di rumahnya tidak termasuk dalam keutamaan itu (dua puluh lima atau dua puluh tujuh darjat), tetapi mereka mempunyai keutamaan tersendiri baik dia shalat di rumahnya dengan berjama’ah atau tidak berjama’ah hal ini lebih utama daripada shalatnya di masjid. -Wallahu a ‘lam bishawab-

Adab-adab Wanita Ke Masjid

Keutamaan shalat wanita di dalam rumahnya sebagaimana telah dijelaskan di atas tidak menafikan bolehnya para wanita shalat berjama’ah di masjid, bahkan wali atau suami tidak boleh melarang mereka jika mereka hendak shalat berjama’ah di masjid, tentunya dengan beberapa syarat.
Telah menjadi ijma’ (kesepakatan) para ulama bahawa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam tidak mencegah sama sekali para wanita untuk shalat berjama’ah di masjid bersama beliau sehingga wafatnya. Demikian pula para Khulafa’ Rasyidin sesudah beliau Shallallahu ‘alaihi wa Sallam. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Apabila salah satu wanita di antara kalian meminta izin ke masjid, maka janganlah kalian cegah mereka”. (HR Bukhari dan Muslim) Dari Ibnu Umar رضي الله عنهما, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:
“Janganlah kalian melarang hamba (para wanita) Allah ke masjid-masjid Allah” (HR. Bukhari)
Menyoroti hadits-hadits di atas, Imam Nawawi رحمه الله berkata: “Hadits ini dan yang semisalnya (menjelaskan) dengan jelas sekali bahawa wanita tidak dilarang pergi ke masjid. Akan tetapi dengan syarat-syarat yang telah disebutkan oleh para ulama’ yang diambil daripada hadits-hadits iaitu: Tidak memakai wangi-wangian, tidak tabarruj (berhias-hias, bersolek-solek), tidak memakai gelang kaki yang dapat terdengar bunyinya, tidak memakai baju yang mewah, tidak berikhtilat dengan kaum lelaki dan bukan gadis yang dengannya dapat menimbulkan fitnah, tidak terdapat sesuatu yang dapat menimbulkan bahaya di jalan yang akan dilewati. Apabila dia mempunyai suami atau tuan dan terpenuhi syarat-syarat yang disebutkan tadi, maka dimakruhkan melarang mereka ke masjid. Namun jika dia belum/tidak mempunyai suami atau tuan, maka diharamkan melarang mereka ke masjid apabila terpenuhi syarat-syarat di atas”. (Lihat Syarh Shahih Muslim 4:382-383).

Berkata Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baaz رحمه الله: “Tidak diperbolehkan bagi si suami untuk mencegah isterinya yang hendak ke masjid, namun shalatnya (isteri) lebih utama di rumahnya dan wajib atasnya menjaga adab-adab Islam iaitu mengenakan pakaian yang menutupi auratya, menjauhi pakaian-pakaian yang tipis dan pakaian yang menampakkan lekuk tubuhnya kerana sempit, tidak memakai wangi-wangi, tidak ikhtilat dengan lelaki lain pada shaf mereka namun di belakang shaf mereka. Sungguh telah ada wanita-wanita pada zaman RasuluIlah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam keluar ke masjid dengan mengenakan jilbab-jilbab dan shalat di belakang kaum lelaki”. (Lihat Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah Wal Ifta 7:336)

Inilah syarat-syarat yang telah ditetapkan oleh para ulama yang disyari’atkan kepada para wanita yang ingin ke masjid. Syarat-syarat ini diambil daripada hadits-hadits Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, -Wallahu A ‘lam bis shawab-

Sholat Berjama’ah Bagi Wanita

Apabila kaum wanita melaksanakan shalat berjama’ah yang diimami oleh seorang wanita maka sebagian ulama memandang baik, hal ini berdasarkan beberapa riwayat diantaranya riwayat dari Raithah Al Hanafiyah :

أَنَّ عَائِشَةَ أَمـــَّتْهُنَّ وَقَامَتْ بــــَيْنـــَهُنَّ فِيْ صَلاَةٍ مَكْتُوْبــــَةٍ ( رواه الدارقطني(

“Bahawasanya Aisyah pernah mengimami wanita-wanita pada salah satu shalat wajib, dan beliau berdiri di antara mereka” (HR. Daraquthni) Diriwayatkan daripada Ummu Salamah رضي الله عنها:

أَنـــَّــهَا أَمَّتْهُنَّ فَقَامَتْ وَسَطًا ( رواه عبد الرزاق و البيهقى(

“Bahwasanya beliau (Ummu Salamah, istri Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam) mengimami para wanita; beliau berdiri di tengah (shaf)” (HR. Abdur Razzaq dan Al Baihaqi) Berkata Syeikh Jibrin hafizahullah: “Ada pun shalat berjama’ah bagi wanita maka hal tersebut tidak mengapa dan bagi wanita yang memimpin shalat tersebut berdiri di shaf ma’mum, namun mereka tidak mendapatkan keutamaan shalat berjama’ah sebagaimana yang diperolehi oleh kaum lelaki yang melaksanakan di masjid, dan tidak dibenarkan bagi seorang lelaki untuk meninggalkan shalat berjama’ah di masjid dengan alasan akan melaksanakannya secara berjama’ah di rumahnya bersama-sama dengan keluarga atau kaum wanita kerana mendatangi masjid untuk melaksanakan shalat fardhu adalah wajib bagi lelaki.” (Lihat Fatawa Islamiyah 1:363)

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan taufiq dan hidayah-Nya kepada seluruh kaum muslimin dan muslimat.

-Abu Abdirrahman-

Maraji’:
1. Jaami’ Ahkami An Nisaa’, Musthafa Al-Adawi.
2. Fatawa Al Lajnah Ad Daimah Lil Buhuts Al ‘Ilmiyah Wal Ifta

KEDUDUKAN UNDANG-UNDANG ISLAM DAN MAHKAMAH SYARIAH

Sejarah perkembangan undang-undang Islam di Malaysia
Sebelum Kedatangan Penjajah


Islam telah datang ke Kepulauan Melayu pada abad Pertama Hijriyyah bersamaan abad Ketujuh Masehi.1 Ini berasaskan dari laporan orang Cina dan penemuan kesan-kesan sejarah yang menunjukkan bahawa saudagar Arab Islam telah membuat penempatan dan menyebarkan Islam di Kedah dan Palembang.

Perkembangan Islam mula berlaku dengan pesat pada kelima belas Masehi melalui Empayar Kesultanan Melaka. Dalam masa yang singkat sahaja Islam telah tersebar ke seluruh Tanah Melayu, Pulau Jawa, Borneo, Sulawesi dan Mindanao.

Kedatangan Islam ini bukan sahaja mengubah sosio-budaya dan pemikiran masyarakat tempatan di Kepuluan Melayu bahkan juga telah membawa perubahan dari sudut perundangan dan pentadbiran. Bukti sejarah menunjukkan bahawa undang-undang Islam telah pun di amalkan di Tanah Melayu sebelum datangnya penjajah Barat. Perlaksanaan ini melibatkan hukum-hukum Islam secara menyeluruh berkaitan dengan jenayah, urusniaga atau muamalah, kekeluargaan, prosedur dan keterangan.


Kedudukan undang-undang Islam sebelum kedatangan penjajah British bukan sahaja diakui oleh ahli sejarah bahkan juga diiktifar oleh Mahkamah. Dalam kes Ramah lwn Laton2, Mahkamah Rayuan di Selangor telah membuat keputusan bahawa undang-undang Islam ialah undang-undang negeri dan mahkamah hendaklah mengiktiraf dan menggunakan undang-undang tersebut.

Penerimaan dan perlaksanaan undang-undang Islam juga jelas terbukti di dalam teks perundangan berkuatkuasa di negeri-negeri Melayu seperti Hukum Kanun Melaka yang juga dikenali sebagai Undang-undang Melaka.3 Sebahagian besar kandungan undang-undang tersebut berasaskan undang-undang Islam dalam semua bidang termasuklah soal jenayah, urusniaga, kekeluargaan, keterangan dan acara. Umpamanya terdapat hukuman hukuman bunuh balas atau qisas, hukum hudud seperti sebat atau rejam bagi kesalahan zina dan liwat, hukuman sebat ke atas kesalahan qadhaf atau menuduh zina tanpa saksi, hukuman mati bagi kesalahan murtad, hukuman potong tangan bagi kesalahan mencuri, hukuman sebat bagi kesalahan minum arak, kesalahan merompak sambil membunuh, dan hukuman mati bagi penderhaka. Hukum Kanun Melaka juga memepruntukkan hukuman berkaitan dengan hukum taazir dan diat di samping beberapa di samping beberapa peruntukan berkaitan dengan urusniaga atau muamalat seperti pengharaman riba, kesahihan sesuatu kontrak, kontrak jual beli, pinjaman dan amanah yang selari dengan hukum Islam.


Selain itu di dalam Hukum Kanun Melaka juga terdapat peraturan keluarga Islam yang meliputi soal wali bagi perempuan, akad perkahwinan, perceraian dan fasakh. Bahkan di dalam undang-undang itu juga terdapat undang-undang keterangan dan acara yang berasaskan hukum Islam seperti kesaksian, sumpah, pengakuan, adab dan kelayakan hakim, prosedur mahkamah serta timbangtara atau sulh. Tegasnya Hukum Kanun Melaka ini merupakan satu bukti yang jelas bahawa undang-undang Islam telah dilaksanakan di Tanah Melayu.

Oleh kerana Empayar Kesultanan Melaka meliputi seluruh Semenanjung Tanah Melayu dan sebahagian dari Sumetera, maka pengaruh undang-undang Islam seperti yang terkandung dalam Hukum Kanun Melaka ini telah tersebar ke negeri-negeri Melayu lain. Ini termasuklah Undang-undang Pahang bertarikh 1596, Undang-undang Kedah bertarikh 1605, Undang-undang Sembilan Puluh Sembilan Perak dan Undang-undang Johor yang mula berkuatkuasa pada tahun 1789. Pada tahun 1914 pula kerajaan Johor menterjemahkan dan menguatkuasakan peraturan di dalam Majallat al-Ahkam iaitu undang-undang sivil Islam yang diamalkan oleh kerajaan Islam Turki.

Di samping itu terdapat juga bukti jelas perlaksanaan undang-undang Islam di negeri-negeri lain seperti Kelantan dan Terengganu. Bagi negeri-negeri lain termasuk Sabah dan Sarawak, walau pun tidak terdapat bukti wujudnya undang-undang bertulis berasaskan Islam, kesemua negeri ini berada di bawah pemerintahan Sultan yang menganut agama Islam.

Zaman Penjajahan British

Perlaksanaan undang-undang Islam di negeri-negeri di Malaysia berjalan sehingga kedatangan penjajah British yang memperkenalkan undang-undang Inggeris bagi menggantikan undang-undang Islam. Cara penerimaan undang-undang Inggeris dan penghakisan undang-undang Islam adalah berbeza antara satu negeri dengan negeri yang lain. Perbezaan ini mengikut kategori negeri-negeri yang secara umumnya ia boleh di bahagikan kepada empat kategori iaitu Negeri-negeri Selat, Negeri Melayu Bersekutu, Negeri Melayu Tidak Bersekutu serta Sabah dan Sarawak.


Bagi Negeri-negeri Selat Undang-undang Islam terhapus melalui penguatkuasaan undang-undang Inggeris secara total melalui Piagam Keadilan Pertama, Kedua dan Ketiga. Piagam-piagam ini menisytiharkan secara jelas penerimaan undang-undang Inggeris secara menyeluruh di negeri yang dikuasai British itu. Akibatnya penguatkuasaan undang-undang Islam yang sedia terpakai terutamanya di Melaka telah terhapus dan diganti dengan undang-undang Inggeris.


Sebaliknya di Negeri Melayu Bersekutu, penghapusan undang-undang Islam berlaku secara yang lebih licik iaitu melalui pemisahan antara ‘hal ehwal agama’ dengan urusan hidup yang lain. Melalui sistem Residen, Sultan dikehendaki menerima nasihat Residen dalam semua urusan kecuali dalam soal ‘hal ehwal agama Islam dan adat istiadat’. Pengertian agama Islam di sini telah disempitkan kepada urusan ibadat, undang-undang kekeluargaan, pewarisan, wakaf dan beberapa perkara lain yang termasuk di dalam kategori undang-undang peribadi. Sementara urusan jenayah, urusniaga, pentadbiran negeri, percukaian, undang-undang tanah, dan lain-lain berada di bawah bidangkuasa Residen Inggeris yang merujuk kepada undang-undang Common Law Inggeris. Selain itu pengaruh undang-undang Inggeris juga dikembangkan melalui penguatkuasaan beberapa undang-undang bertulis di negeri-negeri berkenaan.


Sementara di Negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu, cara penyisihan undang-undang Islam juga hampi sama. Di sini Inggeris melantik pegawainya yang dikenali sebagai Penasihat bagi menguatkuasakan undang-undang Inggeris dalam semua urusan kecuali dalam urusan ‘hal ehwal agama’ dan adat istiadat.


Penyempitan maksud agama dan pemisahan agama dari urusan kehidupan ini adalah bertentangan dengan konsep Islam sebagai sistem hidup yang menyeluruh. Sistem pemisahan antara agama dan urusan hidup yang diperkenalkan oleh British ini menjadi titik tolak kepada struktur dualisme di dalam sistem perundangan Malaysia yang ada pada hari ini. Kesan penyisihan undang-undang Islam yang dilakukan oleh British ini memberi kesan yang besar dan berterusan sehingga sekarang.


Bagi Sabah dan Sarawak, walau pun telah menerima pengaruh Inggeris seawal tahun tahun 18824 dan 18425, undang-undang Inggeris hanya diterima secara rasmi pada tahun 19516 dan 19497. Akibatnya pengaruh perundangan Islam yang dilaksanakan oleh kedua-dua negeri ini melalui pemerintahan Sultan Brunei mula terhakis.


Secara ringkasnya, perlaksanaan undang-undang Inggeris di Tanah Melayu, Sabah dan Sarawak menyebabkan undang-undang Islam tidak lagi diamalkan seperti sebelumnya. Undang-undang Inggeris ini diperkenalkan oleh British melalui dua cara iaitu:


Melalui undang-undang bertulis iaitu dengan menguatkuasakan undang-undang baru yang bersumberkan undang-undang Inggeris seperti Kanun Keseksaan, Kanun Acara Jenayah, Kanun Acara Sivil, Enakmen Keterangan, Enakmen Kontrak dan Enakmen Tanah.
Melalui keputusan para hakim yang kebanyakannya terdiri dari hakim-hakim British. Mereka membuat penghakiman berdasarkan prinsip Common Law Inggeris dan mewujudkan prinsip perundang yang mengikat mahkamah di negeri-negeri Melayu.


Bagi memperkukuh pengaruh undang-undang Inggeris mereka telah menguatkuasakan Enakmen Undang-undang Sivil8 (sekarang dikenali sebagai Akta Undang-undang Sivil 1956) yang menyebabkan penerimaan prinsip Common Law dan peraturan-peraturan Ekuiti seperti yang ditadbirkan di England.


Akibat dari pengaruh Inggeris, undang-undang Islam hanya digunakan dalam urusan kekeluargaan, wakaf, pusaka dan kesalahan yang ada kaitan dengan keagamaan sahaja. Penguasaan undang-undang Inggeris ini berlarutan walau pun setelah negara mencapai kemerdekaan.

Selepas Merdeka

Persekutuan Tanah Melayu mencapai kemerdekaan pada tahun 1957. Pada tahun 1963, Sabah dan Sarawak telah bergabung dengan Tanah Melayu dan mewujudkan negara Malaysia. Undang-undang tertinggi bagi negara adalah Perlembagaan Persekutuan dan badan perundangan tertinggi adalah Parlimen yang terdiri daripada Yang Dipertuan Agung, Dewan Negara dan Dewan Rakyat.

Menurut Perlembagaan Persekutuan, undang-undang tertinggi adalah perlembagaan itu sendiri dan mana-mana undang-undang yang bercanggah dengannya adalah terbatal setakat yang bercanggahan itu.9 Perlembagaan juga meletakkan urusan pentadbiran agama Islam dan undang-undang Islam di bawah bidangkuasa kerajaan negeri. ‘agama Islam’ yang dimaksudkan di sini dihadkan kepada perkara-perkara berkaitan undang-undang keluarga, wakaf, pusakan, serta pengurusan zakat, baitul mal dan masjid. Perlembagaan juga memasukkan peruntukan berkaitan dengan mahkamah Syariah di bawah bidangkuasa kerajaan negeri.


Kedudukan Islam dalam Perlembagaan

Perkara 3 Perlembagaan Persekutuan memperuntukkan bahawa agama Islam adalah agama Persekutuan, tetapi agama-agama lain boleh diamalkan dengan aman dan damai di mana-mana bahagian Persekutuan. Peruntukan ini menjadikan kedudukan agama Islam lebih istimewa dari pada agama lain. Namun demikian penganut agama lain tetap mempunyai kebebasan untuk menganut dan mengamal agama mereka. Mereka juga berhak untuk menyebarkan agama masing-masing kecuali jika terdapat undang-undang yang menyekat penyebaran apa-apa iktikad atau agama di kalangan penganut agama Islam.10

Walau bagaimana pun peruntukan ini tidak mempunyai kesan dari sudut perlaksanaan undang-undang Islam di Malaysia. Ini kerana perkataan ‘agama Islam’ di dalam Perkara 3 ini merujuk kepada maksud ‘agama’ seperti yang dipegang oleh Barat khususnya di kalangan pendokong fahaman sekularisme. Ini kerana Perlembagaan digubal oleh Suruhanjaya Perlembagaan yang dipengerusikan oleh Lord Reid. Sehubungan dengan itu maksud agama di dalam Perkara 3 ini hanya menyentuh hubungan manusia dengan Tuhan semata-mata tanpa melibatkan hubungan sesama manusia yang lebih luas. Dengan lain perkataan ia tidak memenuhi maksud Islam sebagai al-din atau cara hidup yang sempurna.11


Dalam kes Che Omar bin Che Soh lwn Pendakwaraya,12 tertuduh telah didakwa di bawah seksyen 39B Akta Dadah Berbahaya yang boleh membawa hukuman mati mandatory. Dalam hujah pembelaannya tertuduh mendakwa bahawa tuduhan yang dikenakan ke atasnya adalah tidak sah kerana bertentangan dengan undang-undang Islam dan sekali gus bercanggah dengan Perkara 3 Perlembagaan Persekutuan. Hujah pembela itu ditolak oleh Mahkamah Agung. Tun Salleh Abbas KHN di dalam penghakimannya menyebut bahawa walau pun Islam adalah satu cara hidup, maksud agama Islam dalam konteks Perkara 3 perlu dilihat berasaskan sejarah dan penggubalan Perlembagaan serta peruntukan lain di dalam Perlembagaan terutamanya Perkara 4. Perkara 4 menyebut bahawa Perlembagaan Persekutuan adalah undang-undang tertinggi dan mana-mana undang-undang yang bercanggah dengan perlembagaan adalah terbatal setakat yang bercanggah itu. Yang Arif menyimpulkan bahawa Islam dalam konteks Perkara 3 hanya meliputi soal upacara rasmi dan adat istiadat semata-mata.

Kes di atas menunjukkan secara jelas kedudukan agama Islam dari sudut perundangan. Secara keseluruhannya Islam tidak menjadi tonggak kepada sistem perundangan negara. Walau bagaimana pun masih terdapat ruang perlaksanaan undang-undang Islam dalam skop yang terhad melalui beberapa peruntukan lain terutamanya berkaitan undang-undang peribadi dan keluarga seperti yang terdapat di dalam Senarai Negeri Jadual Kesembilan.




Perlaksanaan undang-undang Islam melalui kerajaan Negeri

Walau pun Perkara 3 tidak menyebabkan perlaksanaan undang-undang Islam, terdapat beberapa peruntukan lain di dalam Perlembagaan yang menyentuh kedudukan undang-undang Islam iaitu Jadual Kesembilan yang membahagikan kuasa antara kerajaan negeri dan kerajaan Persekutuan.

Undang-undang Islam diletakkan di bawah Senarai Negeri. Ini bermakna kuasa perundangan dan pentadbiran undang-undang Islam adalah di bawah kuasa kerajaan Negeri. Badan yang berkuasa untuk membuat undang-undang berkaitan agama Islam adalah Dewan Undangan Negeri. Pada umumnya, Parlimen tidak berhak membuat undang-undang berkaitan agama Islam kecuali bagi Wilayah Persekutan.

Keadaan ini menjadikan tiap-tiap negeri perlu membuat enekmen tersendiri berkaitan perundangan dan pentadbiran Islam. Walau pun kebanyakan adalah hampir sama, namun terdapat juga perbezaan antara enekmen sesebuah negeri dengan negeri yang lain. Perbezaan undang-undang ini kadang-kadang menyebabkan timbil kelemahan dari sudut perlaksanaan undang-undang Islam ke atas penganut Islam di Malaysia.

Di samping itu skop undang-undang Islam yang boleh dikuatkuasakan oleh kerajaan negeri ini adalah terhad kepada perkara-perkara berbentuk undang-undang peribadi, undang-undang keluarga dan beberapa perkara lain seperti yang disebut oleh Senarai Negeri itu. Ini termasuklah hukum pewarisan, pertunangan, perkahwinan, perceraian, maskahwin, nafkah, pengambilan anak angkat, taraf anak, penjagaan anak, pemberian, pembahagian harta dan amanah bukan khairat, wakaf, amanah khairat, adat istiadat Melayu, zakat, fitrah, baitul mal, masjid dan surau.

Ia juga meliputi kesalahan jenayah syariah seperti yang berkaitan dengan rukun Islam serta peraturan bagi mengawal pengembangan iktikad dan kepercayaan antara penganut Islam, di samping perkara yang berkaitan dengan mahkamah Syariah seperti keanggotaan, penyusunan dan cara pentadbiran mahkamah tersebut.

Undang-undang yang meliputi perkara di atas juga terhad hanya kepada penganut agama Islam sahaja. Ia juga hanya boleh berkuatkuasa setakat tidak bercanggah dengan undang-undang Persekutuan.

Sistem Mahkamah Syariah
Bidangkuasa Mahkamah Syariah


Mahkamah Syariah adalah mahkamah dengan bidangkuasa khas bagi membicarakan kes-kes yang terletak di bawah bidangkuasa kerajaan negeri yang berkaitan dengan agama Islam sebagaimana yang terdapat di dalam Senarai Negeri, Jadual Kesembilan. Kewujudan Mahkamah Syariah adalah akibat sistem dualisme dalam pentatadbiran sistem kehakiman di Malaysia.


Sebelum kedatangan penjajah, kerajaan negeri-negeri Melayu terutamanya Melaka meletakkan kuasa mahkamah berasaskan undang-undang Islam dengan menjadikan Sultan sebagai tribunal rayuan tertinggi. Penjajah British telah mewujudkan Mahkamah Sivil yang berasaskan undang-undang Inggeris dengan bidangkuasa yang luas. Mahkamah Syriah diletakkan ditempat yang rendah dan mempunyai bidangkuasa yang terhad.


Selepas mencapai kemerdekaan, Perlembagaan Persekutuan meletakkan bidangkuasa Mahkamah Syariah di bawah kerajaan negeri. Ia hanya diberi kuasa untuk membicarakan perkara-perkara yang terdapat dalam Jadual Kesembilan Perlembagaan Persekutuan iaitu bagi perkara yang meliputi undang-undang keluarga, zakat, wakaf, kasalahan berkaitan rukun Islam sahaja.


Ia juga hanya boleh membicarakan penganut agama Islam sahaja. Bidangkuasa jenayahnya pula terhad kepada hukuman penjara yang tidak melebihi tiga tahun, denda tidak melebihi RM 5,000 atau sebat tidak melebihi enam sebatan atau kedua-duanya sekali.13

Organisasi Mahkamah Syariah

Pada peringkat awal Mahkamah Syariah berada di bawah Majlis Agama Islam dan Jabatan Agama Islam tiap-tiap negeri. Bagi meningkatkan kecakapan Mahkamah Syaraiah, kebanyakan negeri sekarang telah memisahkan pentadbiran Mahkamah Syariah dari Majlis Agama Islam serta Jabatan Mufti.

Struktur Mahkamah Syariah terdiri dari tiga peringkat mahkamah iaitu Mahkamah Rendah Syariah, Mahkamah Tinggi Syariah dan Mahkamah Rayuan Syariah.

Mahkamah Rayuan Syariah adalah badan kehakiman syariah tertinggi yang dianggotai oleh panel yang dilantik oleh Yang Dipertuan Agung. Terdapat seorang Ketua Hakim Syarie yang mengetuai badan kehakiman Mahkamah Syariah. Struktur Mahkamah Syariah sentiasa dikemaskini dari masa ke mas bagi memenuhi keperluan masyarakat Islam di Malaysia.

Konflik Bidangkuasa Mahkamah Syariah-Mahkamah Sivil

Walau pun bidangkuasa Mahkamah Syariah telah ditentukan oleh Perlembagaan, namun terdapat beberapa kes yang menimbulkan pertindihan kuasa di antara Mahkamah Syariah dan Mahkamah Sivil. Terdapat mahkamah sivil yang membicarakan kes yang sepatutnya tertakluk kepada bidangkuasa mahkamah Syariah.14


Perkembangan ini telah cuba diatasi pada tahun 1988 melalui pindaan15 Perkara 121 Perlembagaan Persekutuan dengan memasukkan Parkara 121(1A) yang memperuntukkan bahawa Mahkamah Tinggi dan mahkamah bawahan awam tidak boleh mempunyai bidangkuasa berkenaan apa-apa perkara dalam bidangkuasa Mahkamah Syariah.


Pindaan ini sedikit sebanyak telah mengangkat martabat Mahkamah Syariah dari campur tangan oleh Mahkamah Sivil. Ini terbukti dengan beberapa kes mahkamah yang diputuskan selepas pindaan tersebut.16


Walau bagaimana pun peruntukan ini belum mampu mengatasi sepenuhnya masalah pertindihan kuasa ini.Ini kerana masih terdapat ruang yang membolehkan Mahkamah Sivil membicarakan perkara yang tertakluk di bawah bidangkuasa Mahkamah Syariah.17 Di samping itu terdapat beberapa statut yang boleh menyebabkan konflik bidangkuasa di antara Mahkamah Syariah dan Mahkamah Sivil.18

1) Syed Muhammad Naquib al-Attas, Preliminary Statement on a General Theory of the Malay-Archipelago, Dewan Bahasa dan Pustaka, Kuala Lumpur, 1966, ms. 11

2 [1927] 6 F.M.S.L.R. 128; 2 J.H. 213

3) teks Undang-undang Melaka ini boleh didapati dalam beberapa versi yang diselanggarakan oleh orang yang berbeza. Antaranya adalah teks yang diselenggarakan oleh Liaw Yock Fang yang mengandungi 44 fasal. Rujuk Liaw Yock Fang, Undang-undang Melaka , The Hague: Maritimes Nijhoft, 1976

4) melalui penguasaan Syarikat (Berpiagam) Borneo Utara British ke atas Sabah

5 ) melalui perlantikan James Brooke sebagai Gabenor Sarawak

6 ) melalui Ordinan Perlaksanaan Undang-undang Borneo Utara 1951

7) melalui Ordinan Perlaksanaan Undang-undang Sarawak 1949

8) Enakmen Undang-undang Sivil 1937 untuk Negeri-negeri Melayu Bersekutu yang kemudiannya diperluaskan perlaksanaannya ke negeri-negeri Melayu Tidak Bersekutu pada tahun 1951. Pada tahun 1956 diganti dengan Ordinan Undang-undang Sivil yang berkuatkuasa ke seluruh Tanah Melayu. Pada tahun 1971 ia disemak semula yang diperluaskan perlaksanaanya ke Sabah dan Sarawak.

9) Perkara 4 Perlembagaan Persekutuan

10) Perkara 11

11) rujuk Para 169 Laporan Suruhanjaya Perlembagaan Persekutuan Tanah Melayu 1956-1957

12 [1988] 2 MLJ 55

13) Akta Mahkamah Syariah (Bidangkuasa Jenaya) 1965 (Akta 355)

14) Contohnya dalam kes Myriam lwn Arif [1971] 1 MLJ 265, mahkamah memutuskan bahawa hak penjagaan anak keluarga Islam boleh diputuskan di bawah Akta Penjagaan Kanak-kanak 1966 dan perintah berkaitan dengnnya boleh dibuat oleh Mahkamah Sivil. Keputusan ini bertentangan dengan bidangkuasa mahkamah Syariah untuk membicarakan kes penjagaan anak orang Islam. Lihat juga kes Ainan lwn Syed Abubakar [1939] MLJ 219, Robert lwn Umi Kalthom [1966] 1 MLJ 163, Nafsiah lwn Abdul Majid [1969] 2 MLJ 174 dan Abdul Ghani lwn Sheriza [1989] 3 MLJ 153.

15 ) Akta (Pindaan) Perlembagaan 1988 (Akta A 704)

16) Kesan pindaan ini telah diiktiraf di dalam kes Mohamed Habibullah lwn Faridah [1992] 2 MLJ 798 apabila mahkamah memutuskan bahawa seorang isteri yang beragama Islam tidak boleh membawa tuntutan di Mahkamah Sivil untuk mendapat gantirugi dan injunksi terhadap suaminya yang dikatakan melakukan serang sentuh dan gangguan terhadapnya. Bahkan permohonan tersebut hanya boleh dimohon di Mahkamah Syariah memandangkan ia tertakluk kepada bidangkuasa Mahkamah Syariah.

17) Umpamanya dalam kes Sukma Darmawan Susmadjataat lwn. Ketua Pengarah Penjara Malaysia & SL [1999] 1 AMR 281, di mana Gopal Sri Ram HKR membuat keputusan bahawa Mahkamah Sivil Mempunyai bidangkuasa untuk membicara perayu yang dituduh melakukan kesalahan seks luar tabi’I di bawah Kanun Keseksaan walau pun terdapat Akta Jenayah Syariah yang memperuntukkan kesalahan liwat.

18) Contohnya Akta Membaharui Undang-undang (Perkahwinan dan Perceraian) 1976 hanya terpakai untuk bukan Islam. Tetapi seksyen 51 Akta itu memperuntukkan bahawa jika salah satu pihak samada suami atau isteri memeluk Islam, pihak yang tidak memeluk Islam boleh mempetisyen untuk perceraian dalam tempoh tiga bulan dari pemelukan Islam itu. Peruntukan ini menjadikan seolah-oleh kemasukan Islam itu satu kesalahan yang membolehkan pihak lain memohon perceraian sedangkan pihak yang memeluk Islam itu tidak mempunyai apa-apa hak di bawah Akta tersebut.